Sistem Politik Islam

FILSAFAT HUKUM ISLAM
PENDAHULUAN
Berhubung kita membicarakan filsafat Hukum Islam, dan para Orientalis menuduhnya sebagai idealisme, maka kita mesti mempelajari filsafat dalam kaitannya dengan hukum di samping meneliti apa yang dimaksud dengan idealism itu. Sebuah devinisi tentang istilah filsafat adalah tidak mungkin. Kata philosophy (filsafat) berasal dari kata-gabungan Yunani philosophia yang berarti cinta atau pencari kebijaksanaan (philen=cinta, dan shopia=kebijaksanaan). Jadi, philosophia adalah suatu usaha untuk menemukan, melalui refleksi sistematik hakekat utama dari segala sesuatu.
Walaupun pada dasarnya sebagai deskripsi rasional tentang sesuatu, filsafat disebut ilmu dari ilmu, kritik, dan sistematisasi atau oranisasi semua pengetahuan, yang ditarik dari ilmu empiric, penalaran rasional dan pengalaman umum. Dua cabang utama filsafat adalah: pertama metafisika, kedua epistemology atau teori pengetahuan – studi tentang sumber, sifat dan batas-batasan pengetahuan.
PEMBAHASAN
A. Metafisika
Kata metaphisics, dalam bahasa Yunani biasa berarti yang datang sesudah fisik. Meta adalah kata Yunani untuk mewujudkan sesudah Filsafat, dalam pengertian yang lebih luas adalah pencarian pengetahuan akan sesuatu dan sebab-sebabnya, dan metafisika merupakan bagian pengetahuan atau studi yang membahas realitas tertinggi.
Bisa disebutkan disini bahwa menurut materialism, yang ada hanyalah benda-benda yang benar-benar ada yang memenuhi ruang. Sedangkan idealisme mengajarkan bahwa hanyalah benda-benda spiritual saja yang benar-benar riil dan benda-benda lain harus dijelaskan sebagai ide-ide. Jadi, kata ide pertama kali dipergunakan dalam filsafat untuk menunjukkan arti ide-ide ala Plato-yakni univeralia-universalia atau bentuk-bentuk yang tak terserap indera yang benar-benar harus dipahami oleh akal dilawankan dengan benda-benda particular yang tidak sempurna yang disajikan kepada indera.
Idealisme dijelaskan sebagai seuatu system di mana obyek persepsi eksternal dinyatakan ada, baik dalam dirinya sendiri maupun sebagai ide-ide yang dipahami. Idealisme subyektif adalah pendapat yang menyatakan bahwa obyek persepsi eksternal ada, baik dalam dirinya sendiri maupun sebagaimana kita ketahui, dalam ide-ide yang dipahami oleh akal. Idealisme Kritis atau Idealisme Idealisme Transenden, pendapat Kant – bahwa dirinya ia terdiri, sebagaimana kita ketahui, tetapi tidak harus di dalam dirinya sendiri, atas ide-ide semacam itu. Idealisme Obyektif, pendapat Schelling – yang mengatakan bahwa persepsi eksternal, sebagaimana kita ketahui, terdiri atas ide-ide semacam itu identik dengan ide-ide semacam ini. Idealisme Absolut, pendapat Hagel – bahwa ia terdiri tidak saja, sebagaimana yang kita ketahui, tetapi di dalam dirinya, atas ide-ide, bukan ide-ide kita, tetapi ide-ide universal.
Idealisme sebenarnya berasal dari kata “idea” yang menurut Plato adalah bentuk dari kelas benda apapun yang ada secara eksternal, yang di mana benda-benda individual adalah salinan yang tidak sempurna, dan dari mana benda-benda individual ini mengambil eksistensi. Gambaran Plato tentang alam bahwa bagian yang riil dan permanen itu adalah dunia ide-ide atau bentuk-bentuk, sedangkan dunia pengalaman keseharian adalah rangkaian peristiwa illutif dan tidak kekal yang terjadi dalam dunia fisik, alam yang tampak, daripada realitas.
Dalam analisa Aristoteles, seseorang harus mengakui dua unsur dalam setiap kejadian alami yang mungkin. Unsur pertama, harus ada sesuatu yang sama, tetapi bisa mengalami variasi. Kedua adalah elemen yang terjadi (sebagai) sumber perubahan-perubahan kualitas. Setiap objek bisa dipahami hanya dalam kaitan materi dan bentuknya, dan proses di mana ia berkembang, berubah atau bergerak, yaitu menggantikan satu bentuk dengan bentuk lain. Benda selalu dalam keadaan tertentu dan berada dalam proses pencapaian keadaan lain tertentu. Jadi, bentuk, aspek yang berubah dan aspek permanen dari setiap benda, selalu hadir dan selalu merupakan dasar untuk menjelaskan apa yang terjadi.
Di samping Plato yang dipandu oleh perubahan di dalam dunia ini memahami dunia sebagai sesuatu yang tidak riil, Aristoteles dengan bantuan sebuah analisa membuktikan bahwa dunia ini harus permanen dan riil, proses perubahan merupakan gerak menghadapi tujuan akan kesempurnaannya. Aristoteles memasukkan dalam teorinya konsep teologi yang bersahajan – dan berpendapat bahwa semua obyek pengalaman kita terdiri atas materi yang dibentuk bergerak atau berubah menurut suatu pola yang selalu bertujuan. Dorongan-dorongan atau perubahan-perubahan ini terjadi dalam rangka mencapai tujuan tertentu, misalnya: biji-eks selalu tumbuh menjadi pohon-pohon eks, tidak pernah menjadi sesuatu yang lain. Setiap benda dalam sejarah alamimya nampak harus berusaha mewujudkan atau memperoleh suatu bentuk tertentu yang sesuai dengan dirinya dan semua aksinya diarahkan untuk mencapai tujuan ini. Setiap benda, kata Aristoteles, bisa dipahami dalam kaitannya dengan bentuk dan materinya, dan proses di mana ia berkembang. Karena itu, realitas sebuah benda terdiri atas bentuk dan materinya, bukannya bentuk seperti yang diajarkan Plato. Ide-ide Platonis, menurut Aristoteles, sebenarnya adalah angka-angka (sekumpulan unit).
Sebagai lawan dari teori ini adalah teori Aristoteles yang menyatakan bahwa realitas terdiri atas bukan ide-ide atau bentuk-bentuk transendental, tetapi fenomena individual dan bisa dilihat, dengan aplikasi intelek manusia kepadanya. ”Bentuk-bentuk” di sini menurut Plato adalah entitas-entitas eternal dan tidak berubah yang ”tertangkap” bukan dalam persepsi tetapi dalam dan di balik dunia yang terindra. Bentuk-bentuk ini adalah nonfisik, nontemporal tetapi amat riil. Menurutnya, bentuk-bentuk tidak bisa diketahui dalam persepsi-indera, tetapi dalam pemikiran dan pada kenyataannya bentuk-bentuk merupakan obyek-obyek pemikiran.
Plato telah berusaha menempatkan realitas ke dalam suatu dunia bentuk-bentuk yang immateri dan telah berhasil menghubungkan nilai-nilai dengan dunia persepsi indera. Ia cenderung menyamakan bentuk-bentuk dengan realitas; Aristoteles menolak bahwa bentuk adalah sama dengan realitas. Plato dan Aristoteles mewakili dua sikap yang berbeda dalam menghadapi dunia. Menurut Plato, dunia ini adalah dunia perubahan dan tidak riil. Sebaliknya, Aristoteles mengajarkan dunia sebagai sesuatu yang riil, dan perubahan hanyalah merupakan suatu pergantian dari bentuk-bentuk di mana materi menerima proses perkembangan. Plato nampaknya adalah seorang idealis, sedangkan Aristoteles seorang praktis. Bagi Aristoteles, biologi merupakan ilmu utama, dan memang ilmu model, di mana ia bertumpu untuk menolak idealisme Plato.

B. Epistemologi atau Teori Pengetahuan
Apakah yang bisa diketahui secara pasti oleh manusia selalu merupakan pertanyaan, karena segala sesuatu yang kita klaim diketahui dalam tingkat tertentu terbuka bagi keraguan. Karena alasan ini, para filsuf telah berusaha mengembangkan suatu teori pengetahuan yang menerangkan umber, dasar dan kepastian pengetahuan kita. Banyak filsuf – kaum rasionalis – telah mencoba menemukan suatu landasan yang pasti dan sempurna bagi pengetahuan kita dalam kaitan prosedur-prosedur tertentu penalaran manusia. Mereka mencari pengetahuan dalam pengertian yang mungkin paling kuat – yakni, informasi yang sekali-kali tidak bisa salah. Selalu saja kaum rasionalis menemukan bahwa pengetahuan semacam itu tidak bisa ditemukan dalam pengalaman indera, tetapi hanya dalam bidang mental tertentu.
Descartes (1596-1650) berasumsi bahwa setiap orang akrab dengan fenomena yang diterima oleh inderanya. Seseorang mungkin melihat sesuatu dalam suatu jarak yang jauh menunjukkan yang sebaliknya jika dilihat dari dekat, atau melihat benda-benda yang nampak berbeda jika benda-benda itu di air, daripada jika benda-benda itu diluat air. Jadi, menurut Descartes pengetahuan inderawi adalah palsu.
Kaum Shopis abad kelima SM amat meragukan kemungkinan menemukan apapun yang (dianggap) benar. Mereka mengembangkan pandangan bahwa pengetahuan dalam pengertian yang paling ketat adalah tidak bisa diraih, maka itu manusia tidak boleh bosan mencari apa yang tidak pernah mereka temukan. Sehingga ia sendiri harus mengukur materi menurut sifat dan kebutuhan-kebutuhannya sendiri, karena hanya manusia yang merupakan ukuran bagi segala sesuatu.
Socrates yakin bahwa seseorang bisa beraksi hanya berdasarkan kebenaran. Dalam berbagai dialog, Plato, dalam penyajiannya tentang Socrates, berusaha untuk membangun suatu teori pengetahuan – apakah pengetahuan itu berguna, sebagaimana kita bisa meraihnya dan mengapa pengetahuan itu benar.
Singkatnya pandangan Plato ialah bahwa pengetahuan tercapai karena pemahaman, atas aspek-aspek dunia yang tidak pernah berubah. Ia percaya bahwa dunia berisi unsur-unsur pokok semacam itu, yang ia sebut ”ide-ide” atau ”bentuk-bentuk”. Cara untuk memperoleh pengetahuan yang lengkap dan benar menurutnya adalah percaya kepada informasi indera, kemudian menguji dunia intelek hanya melalui bantuan kekuatan penalaran seseorang.
Di lain sisi, Descartes melanjutkan pengujiannya tentang sumber pengetahuan tertentu yang tidak mungkin diragukan lagi, pasti. Akhirnya ia menemukannya dalam kepastian eksistensinya sendiri – informasi satu-satunya yang ia temukan sebagai kebenaran adalah ”aku ada”. Ia berkeyakinan, dengan menyelidiki kebenaran itu (aku berfikir maka aku ada), ia bisa menemukan aturan atau kriteria tentang seluruh kebenaran. Menurutnya, apa yang difahami secara jelas dan nyata adalah benar.
Teori-teori pengetahuan seperti yang dikembangkan oleh Plato dan Descartes disebut ”rasionalistik”, karena mereka menekankan bahwa dengan menggunakan prosedur-prosedur tertentu dari rasio semata kita bisa menemukan pengetahuan dalam pengertian yang paling kuat, yang bagaimanapun juga tidak mungkin salah. Biasanya teori-teori rasionalistik semacam itu selalu mempertahankan bahwa kita tidak bisa menemukan pengetahuan yang benar-benar pasti di dalam pengalaman, tetapi harus mencarinya didalam dunia akal. Plato dan Descartes sama-sama mengklaim bahwa pengetahuan yang benar jelas-jelas di dalam diri kita dalam bentuk ide-ide, lahir dari benar dan salah yang terdapat di dalam pikiran kita yang tidak kita peroleh, tetapi hal itu dilahirkan bersama kita. Lebih jauh kaum rasionalis mempertahankan bahwa apa yang kita tahu sebagai kepastian melalui berbagai prosedur rasionalistik adalah dunia riil. Dunia yang tidak bisa diketahui secara pasti secara umum harus dianggap sebagai dunia ilusi, tidak riil atau tidak penting.
Semua yang ditawarkan oleh para filsuf adalah ini hanyalah fantasi pribadi mereka saja, tidak nyata. Hume (1711-1776) dan banyak filsuf empiris, telah menolak klaim kaum rasionalis tentang kepastian sempurna dan mulai dengan pengalaman indera sebagai sumber dan landasan ilmu pengetahuan yang riil. Dalam Essau Concerning Human Understanding, John Locke (1632-1704) mencoba menulis sebuah penjelasan tentang pengetahuan dalam kaitannya dengan pengalaman. Ia mempertahankan bahwa sumber pengetahuan datang melalui indera dan akal, tidak berisi ide-ide lahir apapun tentang benar dan salah sebagaimana diklaim oleh Descartes. Hume, di satu pihak, benar-benar mengandalkan pengalaman sebagai sumber pengetahuan dan menghapus akal sama sekali.
Kant (1724-1804) dalam Critique of Pure Reason, berusaha memasukkan rasionalisme-idealistik, yang diwarnai oleh suatu kepercayaan akan keunggulan pemikiran atas pengalaman, dengan sensualisme-empirik atau anggapan yang mempertahankan seluruh pengetahuan manusia di atas persepsi indera. Kant mengambil posisi bahwa indera merupakan satu-satunya sumber pengetahuan kita tentang benda-benda dalam dunia empirik. Akan tetapi dia memandang pengalaman indera sebagaimana yang dikondisikan oleh hukum pikiran manusia, yang menurut pendapatnya, berisi bentuk-bentuk kognisi atau pemahaman tertentu yang karenanya kecepatan kesan-kesan indera manusia diserap, dikoordinasikan dan diintegrasikan. Dalam karyanya tersebut ia tepatnya bukan sebuah kritik, tetapi analisa kritis atas akal untuk menunjukkan keterbatasan-keterbatasan, akal mendahului pengalaman sebagai sumber pengetahuan. Hume sepenuhnya menjadikan pengalaman sebagai sumber pengetahuan yang benar. Kant mempertahankan bahwa pengalaman sama sekali bukan merupakan satu-satunya bidang di mana pemahaman kita bisa dibatasi. Pengalaman kata Kant, tidak memberi kita apa-apa kecuali sensasi-sensasi dan kejadian-kejadian yang berserakan yang mungkin mengubah rangkaian mereka di masa yang akan datang. Itulah akal, suatu agen aktif, yang membentuk dan mengkordinasi sensasi-sensasi ke dalam ide-ide dan menstransformasikan keberagaman pengalaman yang kacau ke dalam kesatuan pemikiran yang teratur.

BERBAGAI ASPEK HUKUM
A. Apakah Hukum itu?
Tidak ada jawaban yang sempurna bagi pertanyaan ini. Tetapi dalam pengertiannya yang paling luas, “istilah hukum mencakup setiap aturan bertindak, katakanlah, setiap standar atau pola di mana perbuatan-perbuatan (baik yang melalui perantara rasio atau kerja-kerja alamiah itu, ada atau harus disesuaikan”.

B. Aliran-aliran Hukum
Menurut aliran-aliran Teologis, hukum merupakan produk akal dan amat erat kaitannya dengan konsep, tentang tujuan, sehingga pertanyaan yang timbul adalah: apakah tujuan akhir hukum itu? Kebanyakan filsuf menganggap keadilan sebagai tujuan tertinggi dan membedakan, antara keadilan alami dan konvensional, yang menyeret ke dalam suatu kontroversi serius dan diskusi metafisika yang berkepanjangang. Dalam rangka membebaskan hukum dari kabut metafisika, Kalsen menekankan pada ilmu hukum murni. Jadi, ia menentang filsafat dan berkeinginan untuk menciptakan ilmu hukum murni, menanggalkan semua materi yang tidak relevan, dan memisahkan yurisprudensi dari ilmu-ilmu sosial. Menurutnya, ilmu hukum adalah studi tentang sifat norma-norma yang ditegakkan oleh hukum. Jadi, etika dan filsafat sosial jauh dari hukum. Di lain pihak Pound menekankan ilmu sosiologi h
ukum karena ilmu ini amat berkenaan dengan kebutuhan-kebutuhan masyarakat. Menurutnya, lebih dari sekedar seperangkat norma abstrak, hukum juga merupakan suatu proses menyeimbangkan berbagai kepentingan yang bertabrakan dan menjamin pemenuhan keinginan-keinginan secara maksimum dengan sedikit mungkin percekcokan.
Aliran Historis Savigny mengajarkan pandangan bahwa sumber hukum adalah kebiasaan yang mendarah daging dalam fikiran manusia. Aliran ini memandang hukum dalam kaitan langsung dengan kehidupan masyarakat. Hukum dikembangkan oleh suatu proses lambat, seperti halnya bahasa sebagai sebuah produk khusus dari kejeniusan bangsa, demikian pula hukum. Sumber hukum bukanlah perintah penguasa maupun kebiasaan masyarakat tertentu, tetapi pengetahuan instinkif (naluri) yang dimiliki oleh setiap bangsa. Perundang-undangan bisa sukses hanya jika ia bersesuaian dengan keyakinan internal suatu bangsa kepada siapa perundangan itu diperuntukkan. Jika melenceng dari itu maka ia akan mengalami kegagalan. Itulah pemikiran Savigny tentang hukum.
Aliran Imperatif Austin menganggap hukum sebagai perintah penguasa. Menurutnya hukum positif – suatu aturan umum tungkah laku yang ditentukan oleh petinggi politik untuk kelompok yang lebih rendah. Tujuan Austin adalah untuk memisahkan secara tajam hukum positif dari aturan-aturan sosial semisal kebiasaan dan moralitas, dan penekananya terletak pada perintah mencapai tujuan ini. Konsep perintah secara tidak langsung menyatakan ancaman bagi pelaksana sanksi jika perintah itu tidak dipatuhi. Jurisprudensi, menurut Austin merupakan suatu ilmu yang kaku tentang hukum positif yang sepenuhnya. Kerugian, sanksi, hukuman, dan gantirugi. Karena itu, Jurisprudensi tidak memiliki fungsi apa-apa terhadap kebaikan atau kejelekan hukum dan harus dibedakan dari perundangan yang berlandaskan pada prinsip utilitas (kemanfaatan) – yakni, kebahagiaan terbesar bagi kebanyakan orang yang merupakan prinsip yang bisa diterima oleh dunia modern dan suatu pandangan yang terekspresi dalam utilitarianisme (teori etika yang mengatakan, bahwa manfaat, dalam arti kebahagiaan yang sebesar-besarnya untuk jumlah yang sebanyak-banyaknya, harus menjadi tujuan segala tindakan dan ukuran untuk menilai tindakan-tindakan tersebut) Bentham.

C. Filsafat Bentham
Esensi filsafat Bentham adalah bahwa alam telah menempatkan manusia di bawah kekuasaan kesenangan dan kesia-siaan. Kita berhutang budi kepada kesenangan dan kesia-siaan semua ide kita; kita mengarahkan semua pertimbangan kita kepada keduanya. Barangsiapa menuntuk hak untuk menarik dirinya sendiri dari ketundukan ini berarti tidak memahami apa yang ia katakan. Sasarannya hanyalah mencari kesenangan dan menghindari kesia-siaan. Sentimen-sentimen (perasaan tak senang) eternal (kekal) dan tidak dapat dibantah ini pasti merupakan studi terbesar bagi kaum moralis dan pembuat undang-undang. Prinsip utilitas menundukkan setiap hal kepada dua motif ini.
Bentham melandaskan filsafatnya pada prinsip kebahagiaan terbesar. Menurutnya Bertrand Russell ada kekosongan nyata dalam sistem Bentham. Jika setiap orang selalu mengejar kesenangannya sendiri maka bagaimana kita menjamin bahwa pembuat undand-undanga harus mengejar kesenangan manusia secara umum. Teori Bentham dikritik oleh banyak pihak sebagai bertentangan dalam dirinya sendiri. Sesuai dengan konsepsinya tentang keinginan dan motif, semua obyek atraksi adalah memperoleh kesenangan personal, sedangkan standar yang memadai untuk menentukan suatu tindakan adalah kontribusinya bagi kesenangan orang-orang lain. Dalam teori Bentham, keinginan untuk memperoleh kesenangan khusus sebagai satu-satunya motif bagi suatu tindakan dan kebaikan umum sebagai prinsip persetujuan adalah pertentangan keras satu dengan yang lain.
”Itu hanya menjadi suatu bagian kecil kebahagiaan” kata George Eliot – yang tidak pernah datang membawa banyak untuk kesenangan kita yang terbatas. Memang lebih baik menjadi seorang manusia yang tidak puas daripada seekor babi yang puas. Pada kenyataannya, tidak akan ada standar pertumbuhan mengenai apa yang benar-benar merupakan kesenangan dan secara moral, kata Dewey disebut kesenangan sebagai suatu tujuan yang tidak bisa dianggap baik, karena seorang individu yang cerdik menyenangi kejahatan dan sebagainya. Teori utilitarian ( penganut utilitarianisme) yang mengatakan bahwa kesenangan itu merupakan kebaikan dan tujuan akhir, ini adalah hal yang tanpa dasar dan juga tidak bermoral.
Sampai di sini kita telah membicarakan aliran-aliran hukum yang berperang penting. Studi yang lebih dalam tentang pandangan-pandangan mereka memperlihatkan fakta bahwa konsep hukum berlandaskan pada dua posisi ekstrem (perbedaan yang besar). Di satu pihak seorang tokoh menekankan sifat memaksa yang dimiliki oleh hukum, tetapi tokoh-tokoh lain lebih mementingkan penerimaan sosial atasnya. Aspek-aspek memaksa – perintah dan Sanksi-sanksi Penguasa – adalah penting bagi teori Kalsen dan Austin. Sebaliknya, penerimaan dan ketaatan masyarakat kepada hukum adalah sentral bagi teori-teori Savigny. Bagi Savigny, adat kebiasaan merupakan hukum yang hidup, yang mungkin menerima konfirmasi otoritatif dari penguasa tetapi tidak diciptakan olehnya. Adat kebiasaan yang merupakan cara-cara yang disetujui oleh masyarakat dianggap bersifat ilahiah, di mana Raja dipandang sebagai pelaksana keadilan maka, aliran Teologis menganggap keadilan sebagai tujuan akhir hukum.
Dalam karya Homer, kata Friedmann, hukum memiliki kedudukan esensial (mendasar) tetapi tidak menerima problebatik. Hukum diwujudkan dalam Themistes di mana Raja menerima dari Zeus sumber keadilan seluruh bumi yang bersifat ilahiah dan dilandaskan pada adat dan kebiasaan. Keadilan tetap identik dengan perintah dan otoritas. Kesadaran akan konflik antara hukum positif melawan keadilan semakin nyata mulai abad ke-8. Ia tumbuh melawan latar belakang gangguan sosial, ketidakpuasan terhadap kekuasaan aristokrasi (keningratan) dan penyalahgunaan kekuasaan yang sering terjadi.

D. Para Filsuf Yunani
Di sini menjadi jelas mengapa para filsuf mengajarkan keadilan sebagi tujuan tertinggi hukum. Oleh karena kekacauan-kekacauan sosial, konflik-konflik internal internal, tirani dan kesewenang-wenangan para penguasa maka, kebutuhan akan keadilan semakin segar dan problem hubungan keadilan dengan hukum positif mendominasi pemikaran Yunani.
Plato (429-348 SM) yakin benar ketidaksamaan alami manusia, yang ia anggap sebagai suatu justifikasi untuk membangun sebuah sistem kelas dalam pandangannya tentang kesejahteraan bersama. Keadilan menurut pandangan Plato berarti bahwa seseorang harus melakukan pekerjaannya dalam hidupnya sesuai dengan kemampuannya.
Setiap anggota masyarakat, menurutnya, memiliki fungsi-fungsi khusus dan harus membatasinya pada pelaksanaan yang tepat dari fungsi-fungsi ini. Sebagian orang memiliki kekuasaan memerintah, kapasitas untuk memerintah. Orang-orang lain mampu membantu orang-orang ini dalam kekuasaan untuk meraih tujuan-tujuan akhir mereka, sebagai anggota-anggota bawahan dari pemerintahan. Sedangkan orang-orang lain cocok untuk menjadi pedagang, pekerja tangan atau tentara.

PENUTUP

Jadi akal, menurut Kant – memiliki keterbatasannya sendiri, sedangkan fisuf-filsuf lain tidak meyakininya, sementara Hume telah menghapuskan akal sama sekali. Kata Bertrand Russell, tidak seorang pun telah berhasil dalam mengembangkan suatu teori pengetahuan yang bisa dipercaya dan konsisten. Ini benar-benar membawa kita kepada kesimpulan bahwa baik indera-indera maupun akal tidak bisa menjadi basis bagi pengetahuan yang benar. Pertanyaannya ialah: apa jalan keluarnya? Untuk menjawabnya kita harus menunjuk wahyu sebagai satu-satunya sumber bagi pengetahuan yang benar dan bisa menuntun kita kepada realitas teringgi. Usaha-usaha (yang dilakukan oleh) indera dan akal dalam memecahkan problem-problem utama berakhir dengan kegagalan, karena akal dan indera berbeda dari satu ke lain orang, di samping karena yang terbatas tidak bisa mencapai yang tertinggi. Hanya Allah semata yang memiliki pengetahuan sempurna tentang segala Maha Kuasa, tetapi juga Maha Ada dan Maha Mengetahui. Karena itu, hukum-Nya sempurna dan meliputi segala hal. Para orientalis menuduhnya sebagai idealisme, tetapi idealisme – sebagaimana kita lihat, tidak memiliki pengertian yang pasti.
Kemudian Plato, dalam Republic, meremehkan kebutuhan akan hukum, tetapi Aristoteles (384-322 SM) mengambil pandangan hukum teologis dan memformulasikan teori keadilan secara lebih hati-hati. Ia mengartikan keadilan sebagai apakah itu menurut hukum atau apakah itu wajar dan seimbang. Ia membuat pembedaan yang berguna antara keadilan alami yang universal dan keadilan konvensional atau legal yang mengikat karena ia dicetuskan oleh penguasa tertentu. Yang tersebut pertama (Plato) menurunkan kekuatan itu dari hukum alam sedangkan Aristoteles dari hukum positif, yang merefleksikan ketegangan antara keduanya. Marilah kita beralih kepada hukum alam yang dituntut sebagai sumber keadilan alami dan sebagai sebuah relief melawan tirani hukum positif – hukum para otokrat (pemegang kekuasaan).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: